
Aku suka tenggelam dalam lamunanku
dimana kau hanya berjarak nol centimeter disebelah kananku
Aku suka tenggelam dalam mimpiku
disaat kita selalu bersama tak terpisahkan jarak ruang dan waktu
Aku suka tenggelam dalam anganku
disaat merengkuhmu hanya tinggal menggerakan tanganku
Aku suka tenggelam dalam relung rinduku
dimana pikiranku hanya kamu, kamu, dan kamu.
aku tahu dalam setiap lamunanku
kita terpisah oleh jarak ruang dan waktu
merambat dalam setiap pikiran
memecahkan semua kegundahan di jiwa
seperti air mengalir tanpa arah
aku tahu dalam setiap tatapanku
kita terhalang oleh ruang jarak dan waktu
hanya sebuah kepastian dan kepercayaan
hanya sebuah kerinduan dan keinginan
kesetian yang selalu aku tancapkan
kini menjadi sebuah keyakinan
kita terhalang oleh jarak sayang
tapi itu tidak membuat kita luluh
kita terhalang oleh ruang sayang
tapi itu hanya sementara dan sekejap
kita terhalang oleh sebuah waktu
tapi kita kan selalu menunggu sampai menyatu
aku dan kamu dalam jarak yang tak menentu
tapi cinta ini akan selalu untukmu
dan kan selalu untukmu
walau jarak dan waktu menghalang
aku menunggumu sampai kulit ini mulai layu
(via akhmadmisba)
“jantung ini terjejali oleh kerinduan
penuh sesak
tersumpali sampai ke pori pori pembuluh darah
meresapi dinding dinding arteri
menyebarkan benih benih kerinduan pada darah
bersama darah, memenuhi tubuhku
seperti nikotin
kerinduan itu telah menjadi candu bagiku
tanpanya, aku bukanlah diriku
diriku yang notabene milikmu
diriku yang tak bisa hidup tanpamu”
Rasa keingintahuanku tinggi akan pemikiran Tuhanmu pada saat menciptakanmu, dan Tuhanku pada saat menciptakanku.
Apakah pada saat mereka menciptakan kita mereka sedang duduk bersebrangan, bermain catur kehidupan dan meminum segelas kekuasaan di Surga sana ? Lalu mereka saling setuju bahwa dunia harus tau, bahwa papan catur tak semuanya hitam. Tak semuanya putih. Pion catur tak hanya hitam, tapi juga ada putih. “Kenapa hitam dan putih selalu berperang, seakan bertolak belakang?,” kata salah satu dari Tuhan kita. “Sepertinya kita harus menghentikan kesenjangan warna ini. Tak selamanya berbeda itu tak bisa sejalan,”kata Tuhan yang lain.
Lalu mereka menciptakan kita. Tuhanmu menciptakanmu, lalu usai masa penciptaanmu Tuhanku mengambil tulang rusukmu sebagai bahan dasar penciptaan diriku. “Ayo buat mereka tak bisa dipisahkan,”kata Tuhanku. Setelah itu mereka memberikan kita baju keberanian dan tameng ketangguhan,lalu memisahkan kita. Mereka membiarkan takdir yang mempertemukan kita kembali.
Pada awal awal pertemuan kita, aku merasa ada yang berbisik memberitahukanku sepotong informasi di masa depan. Bahwa aku akan punya cerita denganmu. Mungkin saja itu suruhan Tuhan kita. Agar paling tidak kita kembali sadar. Kita tak boleh jauh terlalu jauh. Kita diciptakan mereka dengan tujuan. Kita bukti pada dunia bahwa perbedaan bukanlah hal buruk. Kita bukti bahwa hitam dan putih bisa sejalan.
Entah apa sekarang yang Tuhan pikirkan melihat kita bersama. Apakah mereka berubah pikiran ? Apakah mereka akhirnya memahami visi dan misi mereka sesama Tuhan berbeda?
Jangan pisahkan kami sekarang Tuhan. Jangan pisahkan kami nanti. Tolong ingat kembali alasan awal mengapa Kau menciptakan kami. Memberikan kami baju keberanian untuk menjadi saksi bagi dunia dan tameng ketangguhan untuk menguatkan kami akan gesekan dari pendapat orang lain. Menjauhkan kami, dan mempertemukan kami kembali dengan takdir.
Tolong ingat lagi, Tuhan.